Itumah Elu Bisa Dirugikan

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saudaraku yang dirahmati Allah, sepertinya pesan yang kamu sampaikan ini seperti ungkapan santai ala bahasa sehari-hari: “Itu mah elu yang bisa dirugikan.” Mungkin ada sesuatu yang membuat hati terasa khawatir atau merasa ada kerugian di balik suatu perkara.

Dalam ajaran tauhid yang murni, kita diajarkan untuk selalu mengembalikan segala urusan kepada Allah semata. Segala kerugian, manfaat, untung, atau rugi yang kita rasakan di dunia ini bukanlah karena kekuatan manusia atau kebetulan semata, melainkan atas izin dan ketetapan-Nya.

Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an yang mulia:

“Katakanlah: 'Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal.'” (QS. At-Taubah: 51)

Artinya, apa pun yang menimpa kita — termasuk yang terasa merugikan — sudah Allah tetapkan dengan hikmah-Nya yang sempurna. Sebagai hamba yang bertauhid, kita tidak boleh larut dalam rasa takut berlebihan terhadap kerugian duniawi. Yang lebih penting adalah kerugian yang sebenarnya: ketika iman dan amal shaleh kita terganggu, atau ketika kita lalai mengingat Allah.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kita untuk selalu berlindung kepada Allah dari segala macam kerugian yang hakiki. Beliau sering berdoa:

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak pernah kenyang, dan doa yang tidak dikabulkan.”

Jika ada perkara yang membuatmu merasa “bisa dirugikan”, coba renungkan dengan lembut: Apakah itu sesuatu yang bisa kita usahakan dengan ikhtiar terbaik, lalu bertawakal sepenuhnya kepada Allah? Atau justru sesuatu yang seharusnya kita serahkan karena memang di luar kuasa kita?

Allah tidak membebani hamba-Nya di luar kemampuannya. Setiap ujian atau kerugian yang datang adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, memohon pertolongan, dan memperbaiki tauhid kita. Dengan keyakinan bahwa hanya Allah yang memberi manfaat dan mudarat, hati akan menjadi tenang.

Jika kamu ingin berbagi lebih detail apa yang sedang dirasakan (tanpa paksaan tentunya), saya siap mendengarkan dan mengingatkan bersama tentang kebesaran Allah yang Maha Melindungi. Semoga Allah menjaga hati dan iman kita semua dari segala kerugian yang hakiki, serta memberikan ketenangan dan kebaikan di dunia dan akhirat.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Postingan populer dari blog ini

Gamau Kerja

**Kalo Paham: Memahami Islam Secara Hakiki**

Contoh Cerita Tauhid Anak

Analisis Kitab Tahdzib Al-Tahdzib

Cara atasi pikiran melayang

**Malak (Malaikat) dalam Islam: Kebenaran, Tugas, dan Hikmah yang Menginspirasi**