Sikut-Sikutan

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saudaraku yang dirahmati Allah, “**sikut-sikutan**” biasanya kita pahami sebagai saling dorong, saling siku, atau saling menyingkirkan dengan cara tidak halus—baik dalam permainan, di keramaian, maupun dalam kehidupan sehari-hari seperti di tempat kerja, kelompok, atau bahkan dalam berlomba mencari dunia. Ada yang bentuknya fisik (mendesak dengan siku), ada pula yang maknawi: saling curang, merebut kedudukan, atau menjatuhkan saudara sesama Muslim demi kepentingan pribadi.

Dalam ajaran Islam, sikap seperti ini sangat kita jauhi, karena bertentangan dengan ruh **Tauhid** yang mengajarkan bahwa segala kekuasaan, rezeki, dan kedudukan hanya berada di tangan Allah semata. Tidak ada yang bisa kita rebut dengan cara zalim, sebab Allah-lah yang memberi dan menahan sesuai kehendak-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

> “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil...” (QS. Al-Baqarah: 188)

Ini mencakup segala bentuk pengambilan hak orang lain secara tidak benar, termasuk dengan cara **sikut-sikutan** yang curang atau menyakiti.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan, bukan saling menjatuhkan. Beliau bersabda:

> “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain; ia tidak menzaliminya, tidak membiarkannya (dalam kesulitan), dan tidak menghinanya.” (HR. Muslim)

Sikap yang indah dalam Islam adalah **ikhlas** dan **tawakkal**. Ketika kita yakin bahwa rezeki dan derajat itu dari Allah, maka kita tidak perlu menyikut saudara kita. Cukup berusaha dengan cara yang halal dan baik, lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Orang yang hatinya penuh dengan Tauhid akan merasa tenang, karena ia tahu: “Kalau Allah menghendaki aku mendapatkannya, maka tidak ada yang bisa menghalangi. Dan kalau Allah belum menghendaki, maka menyikut orang lain pun sia-sia.”

Saudaraku, mari kita perbaiki hati. Jauhi sikut-sikutan, gantikan dengan saling mendukung, saling mendoakan, dan saling mengingatkan kepada kebaikan. Dengan begitu, keberkahan akan datang, dan hubungan antar sesama Muslim akan menjadi kuat, seperti yang Allah perintahkan:

> “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah: 2)

Semoga Allah menjaga hati kita semua dari sifat dengki, curang, dan sikut-sikutan. Semoga kita selalu diberi ketenangan dalam bertauhid kepada-Nya dengan lurus.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

Jika ada yang ingin saudara tanyakan lebih lanjut tentang sikap ini atau bagaimana menguatkan Tauhid di tengah persaingan dunia, saya siap mendengarkan dan menjelaskan dengan lembut. 😊

Postingan populer dari blog ini

Pelajari Tata Cara Shalat Tahajjud

Jelaskan makna Arsy dalam tafsir

Anjing (Asu) dalam Perspektif Islam

Jelaskan tanda orang selamat

Lagi Gampang Melulu

Paham Nggak Gue Itu Ngga Peduli