Lengo : Kelembutan Hati dalam Menghadapi Kelengahan dan Emosi

**Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh**  

### Lengo : Kelembutan Hati dalam Menghadapi Kelengahan dan Emosi  

Dalam bahasa Jawa, kata **“lengo”** sering dipahami sebagai sikap mengalah, menghindari pertengkaran, atau tidak terburu‑buru dalam menanggapi kemarahan.  Jika dipandang dari perspektif Islam, lengo dapat dihubungkan dengan dua konsep utama:

1. **Kelengahan (kelalaian) dalam melaksanakan perintah Allah** – yaitu ketika hati menjadi malas atau lalai dalam ibadah dan kebaikan.  
2. **Kelembutan hati (taubat, sabar, dan mengendalikan amarah)** – yaitu sikap mengalah, menahan diri, dan tidak membalas kemarahan dengan kemarahan.

Kedua makna ini saling melengkapi, karena Allah SWT menuntun hamba‑Nya untuk **tidak lalai** dalam ketaatan, sekaligus **lembut** dalam berinteraksi dengan sesama. Berikut ulasan singkat yang didasarkan pada Al‑Qur’an dan Sunnah.

---

#### 1. Lengo sebagai peringatan terhadap kelengahan (kelalaian)

Allah SWT berfirman:

> **“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang belum kamu kerjakan? Mengapa kamu tidak menyiapkan diri (untuk mengerjakan) apa yang telah kamu katakan?”**  
> *(QS. Al‑Mujadalah : 11)*  

Ayat ini menegaskan bahwa kelengahan dalam melaksanakan perintah‑perintah Allah tidak dapat diterima. Nabi Muhammad SAW pun menasihati:

> **“Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bekerja keras dalam kebaikan dan menolak kelalaian.”**  
> *(HR. Ahmad)*  

Maka, **lengo** dalam arti kelengahan harus dihindari dengan:

- **Meningkatkan niat** setiap pagi: “Ya Allah, jadikanlah hatiku selalu mengingat Engkau.”  
- **Menetapkan jadwal ibadah** yang konsisten (sholat, dzikir, membaca Al‑Qur’an).  
- **Membuat catatan amal** untuk memantau kebaikan yang telah dilakukan dan yang masih tertunda.

---

#### 2. Lengo sebagai kelembutan hati dalam mengendalikan amarah

Allah SWT memerintahkan umat‑Nya untuk **menahan amarah** dan **mengalah** bila diperlukan:

> **“Dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain, Allah menyukai orang-orang yang berbuat demikian.”**  
> *(QS. ‘Ali ‘Imran : 134)*  

Nabi Muhammad SAW bersabda:

> **“Orang yang kuat bukanlah yang pandai berkelahi, melainkan yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.”**  
> *(HR. Bukhari & Muslim)*  

Dari sini, **lengo** sebagai sikap mengalah dapat dipraktikkan dengan tiga langkah:

| Langkah | Penjelasan | Dalil |
|--------|------------|-------|
| **1. Menahan diri** | Ketika hati mulai panas, tarik napas dalam‑dalam, ucapkan “Subhanallah” tiga kali, lalu “Allahu Akbar”. | QS. Al‑‘Imran : 134 |
| **2. Meminta maaf** | Jika sudah terlanjur berkata kasar, segera minta maaf kepada yang bersangkutan. | HR. Abu Dawud: “Barangsiapa yang berbuat salah, hendaklah ia meminta maaf.” |
| **3. Mengalah dengan hikmah** | Pilih waktu yang tepat untuk membicarakan masalah, hindari konfrontasi di saat emosi tinggi. | HR. Tirmidzi: “Tidak ada yang lebih baik daripada mengalah dalam kebaikan.” |

---

#### 3. Manfaat mengamalkan lengo dalam kehidupan sehari‑hari

- **Keluarga sakinah**: Menghindari pertengkaran yang tak perlu menciptakan suasana damai di rumah.  
- **Peningkatan keimanan**: Dengan menahan kelengahan, hati selalu terjaga dalam ketaatan.  
- **Kebijaksanaan sosial**: Sikap mengalah memberi contoh baik bagi lingkungan sekitar, menumbuhkan rasa hormat dan persaudaraan.

---

#### 4. Doa Penutup

> **“Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku hati yang lembut, kuat dalam menahan kelengahan, dan bijaksana dalam mengalah bila diperlukan. Jadikanlah keluargaku tempat yang penuh kasih, kedamaian, dan ketaatan kepada-Mu.”**  
> *(Aamiin)*  

Semoga artikel singkat ini dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingnya **lengo**—baik sebagai peringatan terhadap kelalaian maupun sebagai sikap mengalah yang penuh hikmah—dalam rangka menapaki jalan yang diridhoi Allah SWT.

**Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh**

Postingan populer dari blog ini

Analisis Mazhab Hanafi Ta'zir

Pelajari Tanda Azab Kubur

Bagaimana cara mengajarkan anak saya untuk menerima kegagalan?

Klausul Ta'zir spesifik

Analisis biaya tabulampot kurma

Format Catatan Muhasabah Harian