Cengengesan dalam Perspektif Islam

**Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh**  

### Cengengesan dalam Perspektif Islam  

**1. Pengertian cengengesan**  
Cengengesan berasal dari bahasa Jawa yang berarti tertawa atau bersenda gurau dengan sikap yang kurang sopan, tidak menghormati orang lain, atau menyepelekan situasi yang seharusnya dihadapi dengan keseriusan. Dalam kehidupan sehari‑hari kita sering menemui perilaku seperti ini, baik di lingkungan keluarga, pergaulan, maupun media sosial.  

**2. Nilai Islam tentang kesopanan dan adab**  

Islam menempatkan **adab (etika)** sebagai bagian penting dari keimanan. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:  

> *“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menuruti langkah-langkah setan; dan barangsiapa menuruti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya ia menyesatkan diri sendiri dan menyesatkan orang lain.”*  
> **(QS. Al‑Isra’: 21)**  

Meskipun ayat di atas tidak menyebutkan “cengengesan” secara khusus, ia menegaskan pentingnya menjauhi perilaku yang menimbulkan kerusakan, termasuk sikap tidak sopan yang dapat melukai hati orang lain.  

**3. Hadis tentang perilaku yang tidak terpuji**  

Rasulullah SAW bersabda dalam beberapa riwayat:  

- *“Sesungguhnya tiga golongan tidak akan dilihat (tidak akan dihiraukan) oleh Allah pada hari kiamat: orang yang durhaka kepada orang tuanya, perempuan yang meniru laki‑laki, dan orang yang tidak memiliki rasa cemburu (ad‑dayyuts).”* (HR. An‑Nasai).  

- *“Sesungguhnya orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”* (HR. Bukhari).  

Perilaku cengengesan, yang sering kali menyinggung perasaan orang lain atau menurunkan martabat, jelas tidak termasuk dalam perbuatan yang bermanfaat.  

**4. Mengapa cengengesan tidak sesuai dengan akhlak Islam?**  

| Aspek | Penjelasan Islam | Dampak cengengesan |
|------|-------------------|-------------------|
| **Kesopanan (adab)** | Nabi SAW menekankan pentingnya berkata dan bertindak lemah lembut. (HR. Bukhari: “Sesungguhnya lemah lembut itu tidak mengurangi iman.”) | Cengengesan menampilkan sikap kasar atau tidak hormat. |
| **Pengendalian diri** | Allah berfirman: *“Dan janganlah kamu melampaui batas dalam (ucapan)mu, karena Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.”* (QS. Al‑Isra’: 29). | Cengengesan sering kali melampaui batas dalam tawa atau komentar. |
| **Menjaga perasaan sesama** | Nabi SAW bersabda: *“Tidak beriman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”* (HR. Bukhari & Muslim). | Cengengesan dapat melukai hati, sehingga menghalangi rasa kasih sayang itu. |

**5. Cara menanggulangi kebiasaan cengengesan**  

1. **Meningkatkan kesadaran diri** – Selalu tanyakan pada hati, “Apakah tawa atau komentar saya memberi manfaat atau malah menyakiti?”  
2. **Berlatih adab berbicara** – Ikuti contoh Nabi SAW yang selalu berkata lemah lembut dan penuh hikmah.  
3. **Mengendalikan emosi** – Jika merasa tergoda untuk bersenda gurau secara tidak pantas, ingatlah perintah Allah untuk menahan diri dari perkataan yang berlebihan.  
4. **Mencari lingkungan yang positif** – Bergaul dengan orang-orang yang senantiasa mengingatkan satu sama lain untuk berakhlak mulia.  

**6. Kesimpulan**  

Cengengesan, meskipun tampak sepele, merupakan contoh perilaku yang tidak sejalan dengan nilai‑nilai Islam tentang **kesopanan, pengendalian diri, dan kepedulian terhadap sesama**. Dengan meneladani Qur’an dan Sunnah, kita dapat menggantikan kebiasaan tersebut dengan tawa yang bersih, kata‑kata yang membangun, serta sikap yang selalu mengingat Allah. Semoga Allah senantiasa memudahkan kita untuk menjadi pribadi yang lemah lembut, bermanfaat, dan selalu berada dalam lindungan-Nya.  

**Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh**

Postingan populer dari blog ini

Pelajari Tata Cara Shalat Tahajjud

Jelaskan makna Arsy dalam tafsir

Anjing (Asu) dalam Perspektif Islam

Jelaskan tanda orang selamat

Lagi Gampang Melulu

Paham Nggak Gue Itu Ngga Peduli