Keteteran Menurut Islam

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

**Keteteran**

Di antara kita, ada kalanya hati terasa lelah sekali. Bukan karena pekerjaan yang berat, bukan pula karena orang-orang di sekitar. Tapi karena sesuatu yang jauh lebih dalam: kita merasa “keteteran” dalam menjaga tauhid.

Keteteran itu seperti langkah yang tersandung berkali-kali di jalan yang sebenarnya lurus. Kita tahu Allah adalah satu-satunya yang berhak disembah. Kita tahu hanya kepada-Nya kita meminta pertolongan. Kita tahu segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya. Tapi entah mengapa, ketika ujian datang, ketika hati sedang sempit, tiba-tiba ada bisikan halus yang membuat kita melirik ke arah lain.

“Kenapa harus begini terus?”  
“Mungkin kalau aku coba cara ini, lebih cepat selesai…”  
“Sepertinya doa saja kurang, perlu usaha yang lebih ‘nyata’…”

Itulah keteteran. Bukan karena kita tidak percaya kepada Allah, melainkan karena iman kita sedang goyah di hadapan tekanan dunia. Seperti orang yang berjalan di atas tali tipis sambil membawa beban berat—ia tahu arahnya benar, tapi kakinya mulai gemetar.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an yang sangat lembut kepada hati kita:

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”  
(QS. Ath-Thalaq: 3)

Ayat ini bukan sekadar janji. Ia adalah pelukan dari Rabb kita. Seolah Allah berkata, “Wahai hamba-Ku, lepaskan beban itu dari pundakmu. Serahkan kepadaku. Aku Maha Cukup bagimu.”

Namun seringkali, keteteran muncul justru karena kita masih menyimpan sedikit harapan pada selain-Nya. Harapan kecil pada jabatan, pada uang, pada orang lain, pada rencana-rencana yang kita buat sendiri. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita doa yang sangat indah:

“Ya Allah, jadikanlah Engkau cukup bagiku dengan apa yang telah Engkau halalkan bagiku, dan jauhkanlah aku dari apa yang telah Engkau haramkan bagiku, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari selain-Mu.”

Doa ini seperti air dingin yang dituangkan perlahan ke hati yang kepanasan. Ia mengingatkan kita: cukupkan dirimu dengan Allah, niscaya hati akan tenang.

Wahai saudaraku yang sedang merasa keteteran, izinkan aku mengingatkan dengan lembut:  
Tidak mengapa jika langkahmu terasa goyah hari ini. Yang penting, jangan berhenti berjalan menuju-Nya. Kembalilah kepada kalimat yang paling murni:

“Laa ilaaha illallah.”

Ucapkan dengan tenang, ulang-ulang hingga hati meresapinya kembali. Karena setiap kali kita mengucapkannya dengan penuh kesadaran, Allah sedang membersihkan noda-noda kecil yang menempel di hati kita.

Ketika engkau merasa keteteran, ingatlah bahwa Allah tidak pernah bosan menerima hamba-Nya yang kembali. Dia Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Dia selalu menunggu kita untuk bersandar penuh kepada-Nya.

Semoga Allah meneguhkan hati kita semua di atas tauhid yang lurus, menjauhkan kita dari segala bentuk keteteran, dan menjadikan kita hamba yang selalu merasa cukup hanya dengan-Nya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Postingan populer dari blog ini

**Kalung & Gelang dalam Perspektif Islam**

Doa yang biasa dibaca ketika masuk kamar mandi

Masa Depan Teknologi: Inovasi Terbaru yang Mengubah Dunia di 2025 dan Seterusnya