Lapuk: Pelajaran Spiritual dari Kehancuran Kayu
**Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh**
### Lapuk: Pelajaran Spiritual dari Kehancuran Kayu
**1. Pengertian lapuk**
Lapuk adalah proses pembusukan pada kayu atau bahan organik yang disebabkan oleh jamur, bakteri, atau kelembapan berlebih. Secara fisik, kayu yang kuat dan tegar dapat berubah menjadi rapuh, berwarna kehitaman, dan kehilangan kekuatannya.
**2. Makna lapuk dalam perspektif Islam**
Dalam Al‑Qur’an Allah SWT mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang diciptakan-Nya bersifat fana dan memerlukan perawatan agar tidak rusak:
> *“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang‑orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka melupakan diri mereka sendiri.”*
> **(QS. Al‑Hashr : 19)**
Ayat ini mengajarkan bahwa bila hati manusia “lapuk” karena kelalaian, ia akan melupakan tujuan penciptaannya dan terjerumus dalam kebodohan.
**3. Hati yang “lapuk” – tanda‑tanda spiritual**
Beberapa gejala hati yang mengalami “lapuk” antara lain:
- **Kehilangan rasa syukur** – tidak lagi mengingat nikmat Allah.
- **Meningkatnya sifat riya’, sombong, atau munafik** – hati menjadi keras seperti kayu yang busuk.
- **Jauh dari shalat dan dzikir** – ibadah yang seharusnya memberi “air” bagi hati menjadi terhenti.
**4. Dalil dari Sunnah**
- **Hadis tentang tanaman**:
> *“Manusia itu seperti tanaman; bila diberi air, ia tumbuh subur, bila diberi api, ia hangus.”*
> **(HR. Muslim)**
Air dalam hadis melambangkan ilmu, shalat, dan amal saleh yang menyejukkan hati; api melambangkan dosa, kelalaian, dan perbuatan yang menghanguskan keimanan.
- **Hadis tentang menjaga hati**:
> *“Sesungguhnya hati manusia berada di antara dua jari; jika ia bersih, ia akan bersih; jika ia kotor, ia akan kotor.”*
> **(HR. Bukhari & Muslim)**
Hati yang “kotor” dapat diibaratkan seperti kayu yang lapuk – mudah hancur bila tidak dirawat.
**5. Cara mencegah hati “lapuk”**
| Langkah | Penjelasan | Dalil Qur’an / Hadis |
|--------|------------|----------------------|
| **Shalat tepat waktu** | Menjadi “air” yang menyejukkan hati. | *“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”* (QS. Al‑Isra : 9) |
| **Membaca Al‑Qur’an** | Menyemai benih kebaikan yang menumbuhkan keteguhan. | *“Sesungguhnya Al‑Qur’an itu petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”* (QS. Al‑Baqarah : 2) |
| **Berzikir dan berdoa** | Mengingat Allah menguatkan ikatan hati dengan Sang Pencipta. | *“Ingatlah kamu kepada Allah dengan menyebut‑namakan-Nya.”* (QS. Al‑Az-Zumar : 42) |
| **Beramal saleh** | Membentuk “akar” yang kuat sehingga tidak mudah lapuk. | *“Sesungguhnya amal‑amal itu tergantung pada niat.”* (HR. Bukhari & Muslim) |
| **Menjauhi pergaulan buruk** | Menghindari “jamur” dosa yang menginfeksi hati. | *“Hai orang‑orang yang beriman, jauhilah perbuatan-perbuatan yang dapat menimbulkan fitnah.”* (QS. Al‑Mujadilah : 11) |
**6. Kesimpulan**
Lapuk pada kayu mengajarkan kita bahwa tanpa perawatan, sesuatu yang kuat sekalipun dapat hancur. Begitu pula hati manusia; bila tidak dipelihara dengan shalat, dzikir, ilmu, dan amal saleh, ia akan “lapuk” dan melupakan Allah. Marilah kita senantiasa meneteskan “air” kebaikan ke dalam hati, menjauhkan “api” dosa, serta menegakkan “akar” keimanan yang kokoh. Dengan begitu, hati kita tetap segar, kuat, dan siap menapaki jalan kebaikan hingga akhir hayat.
**Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh**
Komentar
Posting Komentar