Komentar Menurut Sunnah
**Komentar Menurut Sunnah**
Bismillahirrahmanirrahim.
Segala puji bagi Allah yang menciptakan lidah sebagai nikmat sekaligus amanah. Shalawat dan salam atas Rasulullah ﷺ yang mengajarkan kita adab berbicara, hingga komentar yang kita tulis di media sosial pun menjadi bagian dari ibadah atau sebaliknya.
Di zaman sekarang, komentar sering kali menjadi tempat orang menumpahkan emosi, mencaci, mengolok, atau sekadar ikut-ikutan. Padahal setiap kata yang keluar, bahkan yang hanya ditulis, akan dihisab.
### 1. Prinsip Dasar: Bicara yang Baik atau Diam
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
> (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini adalah kaidah utama. Sebelum menulis komentar, tanyakan dalam hati:
“Apakah ini termasuk yang baik? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini mendekatkan orang kepada Allah atau menjauhkan?”
Jika tidak yakin, lebih baik diam. Diam yang dilandasi takut kepada Allah lebih mulia daripada komentar yang penuh emosi.
### 2. Jaga Lidah dari Ghibah, Namimah, dan Celaan
Allah Ta’ala berfirman:
> “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang.”
> (QS. Al-Hujurat: 12)
Komentar yang berisi gunjingan, ejekan, atau menyebarkan aib orang lain adalah ghibah. Meskipun dilakukan di kolom komentar, hukumnya sama. Bahkan kadang lebih berbahaya karena tersebar luas dan sulit dihapus.
### 3. Niatkan Komentar untuk Kebaikan
Setiap komentar seharusnya keluar dari niat yang lurus:
- Menyampaikan kebenaran dengan lemah lembut
- Menasihati dengan hikmah
- Mendoakan kebaikan
- Atau sekadar mengucapkan kalimat yang menenangkan hati
Allah berfirman:
> “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.’”
> (QS. Al-Isra’: 53)
Perkataan yang baik bukan hanya isi yang benar, tapi juga cara penyampaiannya yang lembut.
### 4. Hindari Komentar yang Membuat Hati Panas
Banyak orang menulis komentar karena marah, iri, atau ingin “menang”. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Bukanlah orang yang kuat itu yang menang bergulat, melainkan orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”
> (HR. Bukhari dan Muslim)
Menahan diri dari menulis komentar saat hati sedang panas adalah bentuk kekuatan. Lebih baik tutup aplikasi, beristighfar, lalu tulis sesuatu yang bermanfaat setelah hati tenang.
### 5. Komentar yang Berpahala
Komentar yang berisi:
- Dzikir
- Doa
- Nasihat yang lembut
- Pengingat kepada Allah
- Atau sekadar kalimat yang membuat saudara seiman tersenyum
semua itu bisa menjadi amal yang terus mengalir pahalanya. Sebaliknya, komentar yang menyakiti, mengolok, atau menyebarkan kebencian akan menjadi beban di hari perhitungan.
### Penutup
Saudaraku, kolom komentar bukan tempat untuk melepaskan amarah. Ia adalah ujian kecil yang menunjukkan isi hati kita.
Setiap kali jari hendak mengetik, ingatlah:
“Ini akan dibaca Allah sebelum dibaca manusia.”
Semoga Allah menjaga lidah dan jari-jari kita, menjadikan setiap komentar kita sebagai saksi yang membela kita di hari kiamat, bukan yang menuntut.
*Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik.*
Wallahu a’lam.