Menjaga Kesucian Diri: Sebuah Tinjauan Tauhid terhadap Perilaku “Coli” (Masturbasi)
Judul: Menjaga Kesucian Diri: Sebuah Tinjauan Tauhid terhadap Perilaku “Coli” (Masturbasi)
I. Pendahuluan – Apa yang Sebenarnya Kita ‘Cari’?
Di tengah hening malam, sebagian orang mencari-cari hiburan, sebagian mencari-cari rasa, dan sebagian mencari-cari Tuhan. Di balik tergelincirnya seseorang pada perilaku masturbasi—yang dalam bahasa sehari-hari kita kenal sebagai “coli” atau “onani”—sering kali terselip kelaparan spiritual yang tak terpuaskan. Ia bukan sekadar persoalan nafsu, melainkan persoalan tauhid: siapa yang berhak dicintai, ditakuti, dan diharapkan secara mutlak?
II. Definisi dan Realitas
Dalam khazanah fikih Islam, masturbasi disebut al-istimnā’ bi al-yad. Mayoritas ulama mazhab Hanafi, Maliki, dan Syafi’i menghukuminya sebagai haram karena Allah SWT berfirman,
“…dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki…” (Al-Mu’minūn: 5-6).
Ulama Hanbali sepakat keharamannya, kecuali dalam kondisi darurat syar’iyyah (misalnya khawatir terjebak zinah). Namun, di balik ketetapan hukum ini, Allah tidak pernah menjadikan sesuatu haram kecuali ada kemudaratan—baik secara fisik maupun psikis—yang lebih besar.
III. Mengapa Kita ‘Coli’? – Anatomi Kelaparan Spiritual
1. Rasa Kosong: Manusia diciptakan berpasang-pasangan. Jiwa yang tak terisi cinta-Nya akan tergesa-gesa mencari pengganti.
2. Rasa Cepat Puas: Masturbasi menjanjikan euforia kilat, padahal “Allah tidak akan mempermalukan hamba yang bertakwa.” (At-Taubah: 40)
3. Rasa Tak Berguna: Ketika keyakinan diri hancur, tubuh menjadi satu-satunya wilayah yang masih bisa “dikendalikan”.
IV. Akibat – Dari Sudut Tauhid
1. Syirik Kecil: Menjadikan syahwat sebagai tuhan sesaat; ‘aku’ menggantikan ‘Allah’ sebagai pusat orientasi.
2. Fitrah Tercela: ‘Abdullah bin Mas’ud menafsirkan ayat “…sesungguhnya jiwa itu sangat mendorong pada keburukan…” (Yusuf: 53) sebagai syahwat tersembunyi yang jika tidak dikendalikan akan menjerumuskan.
3. Tergelincirnya Shalat: Nafas syetan menghembuskan “Nanti saja, masih ada waktu.” Padahal “…sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan munkar…” (Al-‘Ankabut: 45).
V. Solusi Tauhid – Lima Pilar Penyucian Diri
1. Tawbah Nāsukhah
• Bertobat bukan sekadar menyesal, tapi “berpaling” (nāsukhah) dari sistem kenikmatan semu kepada sistem ridha Allah.
• Praktik: Segera berwudhu, shalat sunnah taubah 2 rakaat, lafazhkan: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari syahwat yang menebalkan dosa.”
2. Qur’an sebagai Obat Penawar
• Imam Al-Ghazali menyebutnya “ghizā’ ar-rūh”. Bacalah 1 halaman sebelum tidur; biarkan ayat beradu dengan syahwat.
3. Jihad Nafsun n-Nafs
• Puasa sunnah Senin-Kamis: “Barang siapa tidak mampu menahan syahwatnya, maka hendaklah ia berpuasa.” (HR. Bukhari)
• Olahraga Fisik: 15 menit push-up, lari, atau renang menurunkan hormon stres kortisol yang memicu nafsu.
4. Perhiasan Shalat & Dzikir
• Al-Qur’an mengaitkan shalat dengan khusyū‘: “…mereka yang dalam shalatnya khusyū‘.” (Al-Mu’minūn: 2). Khusyū‘ adalah anti-klimaks terhadap rasa hampa.
5. Komunitas Tauhid
• Ikut majelis ta’lim mingguan; bahkan sekadar WhatsApp group kajian bisa menjadi “rantai iman” yang menahan kita jatuh.
• Rasulullah menjanjikan: “Orang yang berjamaah lebih baik daripada orang yang berdua, yang berdua lebih baik daripada yang sendirian…” (HR. Muslim).
VI. Kisah Inspiratif – Dari Gelap Menuju Cahaya
Ali, 26 tahun programmer asal Bandung. Sejak SMA ia terjerat colly harian hingga sempat patah semangat kuliah. Titik baliknya datang saat ia menemukan situs tadabbur Qur’an harian (tadabbur.one) yang mengajaknya menulis refleksi ayat. Ia mulai puasa Senin-Kamis, lalu mengikuti kajian akhwat-kelompok daring “Shalihah Tech”. Tiga bulan kemudian, energinya kembali: IP-nya naik, ia lulus cumlaude, dan kini menjadi mentor di komunitas “Recode the Fitrah” yang membantu remaja hijrah dari pornografi.
VII. Penutup – Allah Lebih Sayang
Allah SWT berfirman, “Barang siapa menjaga dirinya (dari perbuatan keji), maka sesungguhnya itu adalah bagian dirinya.” (As-Syams: 9). Jaga diri bukan sekadar menahan tangan, tapi menahan hati agar tak menempel pada selain-Nya. Allah tidak menurunkan wahyu untuk menyusahkan kita, melainkan untuk menyucikan kita. Dan penyucian itu tidak pernah mustahil.
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Al-Insyirah: 6)
Apakah kau percaya bahwa Allah—yang mampu membelah laut untuk Nabi Musa, menggelapkan matahari untuk Nabi Yunus—juga mampu membelah lautan godaan di dadamu? Ya, Ia mampu. Dan Ia telah menunggumu dengan sabar, untuk kembali dalam pelukan tauhid yang suci.