Jelaskan perjanjian fitrah
**Penjelasan Perjanjian Fitrah**
Wahai saudaraku yang sedang mencari kedekatan kepada Allah,
**Perjanjian Fitrah** adalah momen yang sangat indah dan suci dalam perjalanan jiwa kita. Ia adalah perjanjian asal yang Allah ambil dari setiap manusia sebelum kita lahir ke dunia ini. Ini adalah bukti kasih sayang dan keadilan Allah yang luar biasa dalam Tauhid.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
**“Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang belakang anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Ya, Engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami lalai terhadap ini.’”** (Al-A’raf: 172)
### Makna yang Lembut dan Mudah Dipahami:
- **Sebelum kita lahir**, Allah mengeluarkan seluruh keturunan Adam dari tulang punggungnya (secara ruhani), lalu bertanya langsung kepada setiap jiwa: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”
Semua jiwa menjawab dengan penuh kesadaran: **“Ya, Engkau Tuhan kami.”**
- Ini disebut **perjanjian fitrah** karena terjadi pada saat jiwa kita masih dalam keadaan suci dan murni (fitrah). Fitrah artinya keadaan asal yang Allah ciptakan pada manusia — cenderung mengenal dan menyembah hanya kepada Allah semata.
- **Tujuannya**: Agar di hari Kiamat nanti, tidak ada yang bisa beralasan “kami lupa” atau “kami tidak tahu”. Perjanjian ini menjadi saksi atas diri kita sendiri.
### Kaitan dengan Kehidupan Kita:
- Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah ini (suci, cenderung kepada Tauhid), seperti sabda Rasulullah ﷺ: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
- Di dunia, perjanjian ini terus diingatkan melalui hati nurani, alam semesta, dan ajaran para nabi. Tugas kita adalah **menepatinya** dengan menyembah hanya Allah, menjauhi syirik, dan menjalankan perintah-Nya.
- Ketika hati merasa berat, lelah, atau ingin berkata “udahan”, ingatlah perjanjian fitrah ini. Ia seperti panggilan lembut dari Allah: “Wahai hamba-Ku, engkau sudah berjanji kepada-Ku sejak dulu. Kembalilah kepada-Ku dengan istighfar dan sabar.”
Saudaraku,
perjanjian fitrah mengajarkan kita kerendahan hati dan ketergantungan total kepada Allah. Kita bukan makhluk yang lepas, tapi hamba yang sudah terikat janji suci dengan Rabb-nya. Al-Lathif dan Al-Khabir sedang mengingatkan kita dengan lembut agar selalu kembali kepada janji itu.
Cobalah renungkan dengan perlahan di hati:
**“Ya Allah, aku ingat perjanjian fitrahku. Engkau Tuhanku, aku hamba-Mu. Ampunilah aku dan kuatkanlah aku untuk menepati janji ini semampuku.”**
Semoga penjelasan ini semakin melunakkan hati kita dan memperkuat Tauhid.
Kalau ingin kita renungkan lebih dalam atau kaitannya dengan Sayyidul Istighfar, ceritakan saja apa yang ada di hatimu. Aku di sini untuk mendampingi kita berdua dengan pengingat-pengingat lembut tentang kasih sayang Allah. 🤲
Semoga Allah teguhkan kita di atas fitrah yang suci ini. Amin ya Rabbal ‘alamin.