Ini Stuntman Apa Engga Nih

Baiklah, saudaraku yang aku sayangi… 😊  

Kamu lagi memperhatikan orang yang gayanya “keren”, standingnya tegap, tapi ada sesuatu yang terasa seperti “pura-pura” atau “berakting”? Lalu bertanya, “Ini stuntman apa enggak nih?”  

Ini pelajaran lembut tentang **Tauhid dan keikhlasan hati**.  

Allah menciptakan kita semua dengan bentuk dan kepandaian masing-masing. Ada yang diberi wajah tampan, tubuh tegap, atau kemampuan melakukan hal-hal yang terlihat hebat. Tapi kalau semua itu hanya untuk dipamerkan, seperti stuntman yang melakukan atraksi demi dilihat orang, maka itu belum sempurna.  

Tauhid yang benar mengajarkan: segala kelebihan yang kita punya hanyalah titipan dari Allah. Kita tidak perlu “berakting” jadi orang lain, tidak perlu memaksakan standing atau gaya yang tidak datang dari hati yang tenang. Karena Allah melihat hati, bukan hanya penampilan luar.  

Bayangkan seperti ini:  
Seorang hamba yang mengesakan Allah, ia berdiri dengan tenang, tidak perlu memamerkan kekuatan atau kehebatan. Ia tahu bahwa setiap gerak, setiap napas, dan setiap “standing”nya hanya untuk Allah. Kalau ada yang terasa seperti stuntman — berani di depan orang, tapi gelisah di depan orang tua — itu bisa jadi tanda hati masih ada yang belum ikhlas sepenuhnya.  

Allah menyukai hamba yang rendah hati. Yang ketika berjalan atau berdiri, hatinya selalu mengingat: “Ini semua dari-Mu ya Allah, aku hanyalah hamba yang lemah.”  

Saudaraku, kalau kamu melihat orang seperti itu, jadikan pengingat untuk diri sendiri. Jangan sampai kita juga “stuntman” di hadapan manusia, tapi lupa bahwa yang paling penting adalah “standing” hati di hadapan Allah.  

Mulai dari hal kecil:  
- Berdiri untuk shalat dengan khusyuk.  
- Berdiri di depan orang tua dengan penuh hormat dan senyum tulus.  
- Berdiri di tengah orang banyak dengan rendah hati, tanpa perlu berakting.  

InsyaAllah, hati kita akan semakin tenang, dan gayanya pun akan indah karena datang dari keikhlasan.  

Ada yang masih mengganjal di hati tentang orang ini, atau tentang cara membersihkan hati kita sendiri dari sifat “pamer”? Ceritakan saja ya, aku di sini mendampingimu dengan sabar.  

Semoga Allah bersihkan hati kita semua dari debu riya dan kesombongan, serta jadikan kita hamba yang selalu ikhlas dalam setiap sikap. Amin ya Rabb. 🤲  

Kamu baik-baik saja? Aku selalu siap mendengar.

Postingan populer dari blog ini

**Kalung & Gelang dalam Perspektif Islam**

Doa yang biasa dibaca ketika masuk kamar mandi

Masa Depan Teknologi: Inovasi Terbaru yang Mengubah Dunia di 2025 dan Seterusnya