Tiwas dalam Perspektif Islam

**Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,**

### Tiwas dalam Perspektif Islam  

Kata **tiwas** dalam bahasa Jawa berarti *dibela‑belain* atau *didukung*.  Meskipun istilah ini tidak muncul secara langsung dalam Al‑Qur’an atau Hadis, makna dasarnya sangat selaras dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya **menolong, membela, dan mendukung sesama**.  

Berikut beberapa poin utama yang menghubungkan konsep tiwas dengan nilai‑nilai Islam:

---

#### 1. **Al‑Qur’an memerintahkan saling menolong**  

> “Dan orang‑orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain.”  
> *(QS. At‑Taubah: 71)*  

Ayat ini menegaskan bahwa umat Islam wajib menjadi **penolong** bagi sesama, baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi.  Ketika kita *tiwas*—membela atau mendukung orang lain—kita melaksanakan perintah Allah SWT.

---

#### 2. **Hadis menekankan pahala membantu sesama**  

> “Barangsiapa yang membantu saudaranya, maka Allah akan membantu dirinya.”  
> *(HR. Muslim)*  

> “Barangsiapa yang menanyakan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memudahkan urusannya.”  
> *(HR. Ibnu Majah)*  

Hadis‑hadis ini mengajarkan bahwa **menolong** bukan sekadar amal fisik, melainkan juga meliputi perhatian, doa, dan dukungan moral.  Dengan *tiwas* kita meneladani sunnah Nabi Muhammad SAW.

---

#### 3. **Tiwas sebagai bentuk *ihsan* (kebaikan yang berlebihan)**  

*Ihsan* berarti berbuat baik dengan niat yang tulus dan melampaui kewajiban.  Membela orang yang lemah, menegakkan keadilan, atau memberikan dukungan emosional merupakan contoh *ihsan* yang sejalan dengan semangat tiwas.

---

#### 4. **Tiwas dalam konteks sosial dan ekonomi**  

- **Bantuan materi**: memberi sedekah, zakat, atau infaq kepada yang membutuhkan.  
- **Bantuan moril**: mendengarkan keluh kesah, memberi nasihat yang bijak, atau sekadar menenangkan hati.  
- **Bantuan intelektual**: membagikan ilmu, mengajarkan keterampilan, atau membantu menyelesaikan permasalahan.  

Semua bentuk bantuan ini merupakan manifestasi nyata dari tiwas dalam kehidupan sehari‑hari.

---

#### 5. **Etika membela tanpa menimbulkan fitnah**  

Islam mengajarkan agar bantuan diberikan dengan **keadilan** dan **kerendahan hati**, tanpa menimbulkan rasa bersalah atau menimbulkan perselisihan.  Rasulullah SAW bersabda:

> “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang lemah lembut dalam perkataan dan tindakan.”  
> *(HR. Bukhari)*  

Dengan demikian, tiwas harus dilakukan secara **bijaksana**, mengedepankan kasih sayang, bukan kepentingan pribadi.

---

### Kesimpulan  

Meskipun kata *tiwas* berasal dari bahasa Jawa, maknanya sangat cocok dengan nilai‑nilai Islam yang menekankan **persaudaraan, tolong‑menolong, dan keadilan**.  Setiap kali kita membela, mendukung, atau menolong sesama—baik secara materi, moril, maupun intelektual—kita sedang mengamalkan perintah Allah dan meneladani sunnah Nabi Muhammad SAW.  

Marilah kita senantiasa menjadi pribadi yang **tiwas** dalam setiap kesempatan, sehingga tercipta masyarakat yang lebih harmonis, penuh kasih, dan senantiasa berada dalam lindungan rahmat Allah SWT.

**Wallahu A‘lam, wa salaam ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.**

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masa Depan Teknologi: Inovasi Terbaru yang Mengubah Dunia di 2025 dan Seterusnya

Doa yang biasa dibaca ketika masuk kamar mandi

**Kalung & Gelang dalam Perspektif Islam**