**Lendir dalam Perspektif Islam**
**Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh**
**Lendir dalam Perspektif Islam**
Lendir (bahasa Arab: *mukharrij al‑jild* atau *al‑mukhal*), merupakan cairan yang dikeluarkan secara alami oleh tubuh manusia. Ia berperan penting dalam menjaga kesehatan saluran pernapasan, pencernaan, bahkan pada organ reproduksi wanita. Dalam Islam, meskipun Al‑Qur’an tidak menyebutkan lendir secara khusus, prinsip‑prinsip tentang **kesucian (ṭahāra)** dan **najis (najāsa)** dapat diterapkan untuk memahami statusnya serta tata cara menanganinya dalam ibadah.
---
### 1. Dasar Qur’an tentang Kesucian
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:
> “Hai orang‑orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul‑Nya, dan ulil‑amri di antara kamu. Jika kamu berdebat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al‑Qur’an) dan Rasul‑Nya…”
> **(QS. An‑Nisā’ : 59)**
Ayat ini menegaskan bahwa segala persoalan yang menyangkut hukum syar’i, termasuk tentang najis atau suci, harus dirujuk kembali kepada Al‑Qur’an dan Sunnah. Karena lendir tidak disebutkan secara eksplisit, kita menelusuri **hadis‑hadis Nabi ﷺ** serta **pendapat ulama** untuk memperoleh petunjuk.
---
### 2. Apa Kata Rasulullah ﷺ tentang Cairan Tubuh
#### a. Dahak, ludah, dan lendir hidung
Dalam riwayat Bukhari dari Anas bin Malik ra., Nabi ﷺ melihat dahak menempel pada dinding masjid, lalu mengerikannya dengan tangannya dan bersabda:
> “Ketika kalian sedang shalat, sesungguhnya dia sedang bermunajat dengan Rabbnya. Karena itu janganlah meludah ke arah kiblat.”
> **(HR. Bukhari)**
Hadis ini menegaskan bahwa **dahak, ludah, dan lendir hidung termasuk cairan suci**; keduanya tidak membatalkan wudu atau shalat, kecuali bila tercampur dengan najis yang jelas.
#### b. Lendir farj (keputihan)
Keputihan atau lendir yang keluar dari kemaluan wanita disebut dalam istilah klasik **“ruthubah”** atau **“ifrazat.”** Para ulama mazhab berbeda pendapat mengenai statusnya:
- **Imam Syafi’i** dalam *Al‑Majmu’* menyatakan keputihan **suci** (tidak najis).
- **Imam An‑Nanawi** mencatat adanya perbedaan pendapat, namun menekankan bahwa bila tidak ada dalil yang kuat menjadikannya najis, maka **as‑asul (dasar hukum) adalah suci**.
Secara umum, mayoritas ulama berpendapat bahwa **lendir farj tidak membatalkan wudu** dan tidak memerlukan tayammum, kecuali bila terdapat darah atau nanah yang jelas.
---
### 3. Praktik Sunnah dalam Menjaga Kebersihan Lendir
1. **Menyeka atau mengeluarkan lendir** dengan cara yang lembut, menggunakan tangan bersih atau tisu yang bersih.
2. **Mencuci tangan** setelahnya, sebagaimana sunnah mencuci tangan setelah buang air kecil atau besar.
3. **Jika lendir menempel pada pakaian atau tempat ibadah**, bersihkan dengan air bersih; air dalam Islam selalu menjadi sarana penyucian (ṭahāra).
4. **Tidak menelan lendir secara sengaja** ketika sedang beribadah; bila tidak sengaja tertelan, tidak membatalkan puasa atau shalat.
---
### 4. Lendir dan Ibadah
| Ibadah | Pengaruh Lendir | Hukum |
|--------|----------------|-------|
| **Shalat** | Lendir di mulut, hidung, atau farj (tanpa darah) | **Tidak membatalkan**; bersihkan bila terasa mengganggu. |
| **Wudu** | Lendir yang menempel pada kulit atau pakaian | **Tidak membatalkan**; cukup bersihkan bila kotor. |
| **Puasa** | Menelan lendir secara tidak sengaja | **Tidak membatalkan**; bila disengaja, tetap sah karena lendir bukan makanan/minuman. |
| **Tayammum** | Diperlukan bila tidak ada air dan lendir menjadi najis (misalnya tercampur darah) | **Boleh** bila kondisi najis terbukti. |
---
### 5. Kesimpulan
Lendir adalah **cairan alami** yang diciptakan Allah untuk menjaga kesehatan tubuh. Berdasarkan **Al‑Qur’an**, **hadis Nabi ﷺ**, dan **pendapat mayoritas ulama**, lendir umumnya **suci** dan **tidak membatalkan wudu, shalat, atau puasa**, kecuali bila tercampur dengan zat najis yang jelas (darah, nanah, dsb.).
Sebagai umat Islam, kita dianjurkan untuk:
- Menjaga kebersihan dengan **menyeka atau membuang lendir** secara lembut.
- **Mencuci tangan** setelahnya, mengikuti sunnah kebersihan.
- Mengingat bahwa **kesucian hati** lebih utama; lendir hanyalah bagian kecil dari ciptaan Allah yang harus kita perlakukan dengan rasa syukur dan kehati‑hatian.
Semoga artikel ini menambah pemahaman dan menenangkan hati dalam menjalani kehidupan sehari‑hari yang bersih dan penuh keimanan.
**Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh**